
Di negara Barat, terdapat indikasi penerimaan orang penyandang gangguan penglihatan bahkan di jaman dahulu. Namun demikian, tidak terdapat cacatan tentang suatu upaya yang sistematik untuk mendidik orang-orang tunanetra dan mengintegrasikan mereka dengan masyarakat hingga abad ke delapan belas. Pada tahun 1784, Lembaga bagi Anak Tunanetra (Institution for Blind Youth), sekolah pertama bagi para tunanetra, didirikan di Paris. Pada awal tahun 1800an, Louis Braille, seorang tunanetra berkebangsaan Perancis, mengembangkan sistem braille saat ini, sebuah sistem perabaan untuk membaca dan menulis yang menggunakan enam titik braille yang timbul. Pada tahun 1829, Rumah Sakit New England bagi Tunanetra / the New England Asylum for the Blind (sekarang menjadi Sekolah Perkins bagi Tunanetra / the Perkins School for the Blind), sekolah pertama bagi tunanetra, didirikan di Amerika Serikat dan yang menjadi direktur pertamanya adalah Samuel Gridley. Lembaga New York bagi Tunanetra serta Lembaga Pennsylvania bagi Instruksi untuk Tunanetra didirikan sekitar tahun 1832. Biasanya hanya anak-anak dari keluarga kaya yang mampu mengikuti pendidikan pada sekolah-sekolah asrama swasta ini.
SEJARAH BIDANG TUNANETRA
Pada tahun 1872, Undang-Undang Pendidikan Skotlandia, yang mewajib-kan anak-anak tunanetra masuk sekolah-sekolah di komunitas lokal mereka bersama-sama dengan teman-teman mereka yang awas, membantu perkembangan mulainya kelas-kelas siang hari bagi anak-anak tunanetra. Di Amerika Serikat, upaya pertama untuk mengintegrasikan anak-anak tunanetra dengan sekolah-sekolah umum lokal didirikan di Chicago. Pada tahun 1897, Ny. Martha Postler, seorang misionari berkebangsaan Jerman dari Hildesheimer Blindenmission mulai merawat empat gadis tunanetra dan mulai mendirikan Sekolah Ebenezer serta Rumah bagi Penyandang Gangguan Penglihatan di Hong Kong. Pada tahun 1900, Frank Hall, seorang pengawas bagi Sekolah bagi Tunanetra Illinois, meyakinkan orang-orang untuk membolehkan siswa-siswa tunanetra untuk tinggal di rumah. Selanjutnya ia mengembangkan sebuah rencana untuk membagi Chicago ke dalam beberapa wilayah. Satu sekolah lokah di setiap wilayah melayani siswa-siswa penyandan gangguan penglihatan berat. Siswa-siswa yang mengikuti kelas-kelas reguler dengan bantuan dari seorang guru pendidikan khusus yang mengajar braille dan mendorong para siswa untuk berperan serta di dalam pendidikan reguler. Pemanfaatan komputer sebagai suatu alat belajar mengajar telah membawa sebuah filsafat integrasi lebih dekat kepada tujuan awalnya.
DEFINISI TUNANETRA/GANGGUAN PENGLIHATAN
Efisiensi daya lihat/penglihatan (visual) manusia (yaitu, seberapa baik seseorang dapat menggunakan penglihatan/sight) dipengaruhi oleh dua faktor, ketajaman penglihatan (acuity) dan bidang penglihatan (peripheral vision). Ketajaman penglihatan dimaksudkan seberapa baik seseorang dapat melihat dari berbagai jarak. Bidang penglihatan dimaksudkan terhadap lebar dan tinggi bidang penglihatan seseorang. Para spesialis penglihatan (visual) mengkategori-sasikan individu penyandang gangguan penglihatan ke dalam dua sub kelompok, low vision dan kebutaan/ketunanetraan (blindness). Low vision (dapat pula disebut tunanetra setengah berat/partially sighted) merujuk kepada mereka yang memiliki ketajaman penglihatan lebih besar dari 20/200 tetapi tidak lebih besar dari 20/70 pada mata yang terbaik setelah pembetulan/koreksi. Kebutaan dimaksudkan bagi orang-orang yang memiliki ketajaman visual 20/200 atau lebih buruk, dan bidang penglihatan tidak lebih besar dari 20º, pada mata yang terbaik setelah koreksi yang paling baik. Kebutaan pendidikan (educational blindness) dapat diartikan sebagai suatu ketidakmampuan siswa untuk menggunakan penglihatan sebagai suatu saluran penting dari belajar. Tujuan dari definisi tersebut adalah untuk menjamin bahwa anak tersebut menerima program instruksional yang selayaknya serta akomodasi terkait.
Di Hong Kong, gangguan penglihatan juga telah didefinisikan ke dalam dua kategori luas: kebutaan (blindness) dan low vision. Untuk menyesuaikan dengan kecenderungan atau trend yang mendunia dalam pengklasifikasian gangguan penglihatan, pemerintah telah menggunakan definisi-definisi berikut untuk memfasilitasi pemberian pelayanan:
- Kebutaan berat (total blindness): mereka yang tidak memiliki fungsi visual, yakni tidak memperoleh persepsi cahaya.
- Low vision:
- Kelompok low vision berat: mereka yang memilikik ketajaman penglihatan antara 6/120 hingga 6/1990, gerakan tangan dan persepsi cahaya atau mereka yang memiliki bidang penglihatan yang sempit di mana diameter bidang paling lebar kurang dari 20 derajat tanpa memperhatikan ketajaman penglihatan pusat.
- Kelompok low vision sedang (moderate): mereka dengan ketajaman penglihatan antara 6/60 hingga 6/95.
- Kelompok low vision ringan (mild): mereka dengan ketajaman penglihatan antara 8/18 hingga 6/48.
Tanda-tanda Gangguan Penglihatan yang Mungkin :
- Anak tidak dapat membedakan huruf-huruf.
- Anak sering menggosok-gosok mata.
- Anak sering mengangkat kepala.
- Anak menutup atau menutupi salah satu mata ketika membaca.
- Anak memiliki kesulitan dalam membaca tulisan kecil.
- Anak mendapat kesulitan melihat setelah matahari terbenam (rabun ayam)
- Anak mendapat kesulitan dalam melihat detil dalam lukisan.
- Mata anak berair secara berlebihan.
- Mata anak nampak pudar atau suram.
- Mata anak terus menerus memerah atau sakit.
- Satu atau kedua pupil tampak abu-abu atau putih.
Sumber : http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196205121988032-NENI_MEIYANI/12-Artikel-Makalah/PENDIDIKAN_BERKEBUTUHAN_KHUSUS_Bag8-Tunanetra-VisualImpairments.pdf